Memahami Exposure Untuk Pemula: #3 – Aperture

Mata kita adalah contoh aperture yang sempurna. Ketika kita melihat cahaya yang terang, pupil mata akan mengecil untuk meminimalisasi cahaya yang masuk. Sebaliknya, di ruangan gelap pupil mata kita membesar untuk mengumpulkan cahaya yang cukup agar bisa melihat. “Pupil” pada kamera digital diukur sebagai bukaan aperture dalam “f-stops”. Semakin besar bukaannya, semakin kecil angka f-stopsnya. Saya mengambil contoh dengan Nikon D3100 yang menggunakan kit lens:

fotonela7

  • Pengaturan A berarti “Aperture Priority”. Pindahkan ke setting ini untuk mengubah angka f-stops dan kamera yang akan mengatur shutter speed-nya.
  • Pada LCD akan tampak angka F di kanan yang berhubungan dengan ilustrasi lingkaran di kiri. Perhatikan bukaannya besar dan angkanya ada di F5
  • Angka f-stops maksimal dan minimal ditentukan oleh jenis lensa yang digunakan. Pada kit lens saya, yang range-nya adalah 18-55mm, bukaan aperture terbesarnya adalah F3.5 pada 55mm dan terkecilnya adalah F36 pada 18mm.

Lalu apa tugas aperture? Ia menentukan fokus. Seberapa banyak bagian dalam foto yang ingin kamu tangkap dengan jelas, atau seberapa banyak kamu ingin mengaburkannya, bisa diatur dengan menyesuaikan angka f-stops. Lihat perbandingan dalam foto ini:

fotonela6

Semakin kecil angka f, semakin sempit area yang terfokus. Ini disebut Depth of Field (DoF). Bukaan lebar (angka F kecil) berarti shallow DoF (fokus sempit) dan bukaan kecil (angka F besar) berarti deep DoF (fokus lebar). Pada f/5.6 hanya patung paling depan yang tampak jelas, memasuki f/36 seluruh frame tampak jelas hingga ke bagian belakang. Kamu mulai melihat bagaimana lensa, f-stops, dan DoF bekerja dengan perbandingan terbalik, bukan? Karena aperture adalah bagian dari tiga variabel penentu kualitas foto (selain ISO dan shutter speed), maka ia juga berhubungan dengan waktu pengambilan cahaya. Angka f kecil membutuhkan shutter speed lebih lambat dibandingkan f besar.

Seperti penggemar fast shutter speed dan long exposure, DoF juga menjadi hal yang penting untuk berkreasi dengan foto. Penggemar foto makro biasanya menggunakan shallow DoF untuk menangkap detil-detil terkecil suatu objek sementara mengaburkan area di sekelilingnya, tapi landscape photographer akan menggunakan deep DoF untuk bisa menangkap seluruh pemandangan mulai dari foreground sampai ke background. Jadi penggunaan aperture sangat relatif tergantung pada selera fotografer dan apa yang ingin ia tampilkan dalam foto-fotonya. Dalam hal ini dSLR punya keunggulan dibandingkan kamera saku karena kemampuannya untuk mengatur aperture dan lensanya bisa diganti-ganti sesuai kebutuhan fokus yang diinginkan. Tapi, diluar semua keperluan teknis, menjadi kreatif dan artistik lebih berperan saat kamu belajar membuat foto yang cantik dengan memanipulasi aperture.

500 dof

contoh penggunaan aperture besar untuk shallow DoF, © Enrico Casa

Deepest dof week 16/52 Images

contoh penggunaan aperture kecil untuk deep DoF, © Janet Ramsden

Jadi, sekarang kamu sudah tahu bagaimana caranya mengatur fokus agar objek yang kamu foto bisa tampak jelas, kan? Dan dengan selesainya post ini, maka kamu sudah lebih mengerti tentang bagaimana foto yang bagus bisa dibuat setelah juga membaca dua post sebelumnya tentang ISO dan shutter speed.

Selamat bereksperimen dan berlatih :)

Penulis : allophelia

sudah menulis 225 post di blog ini.

seorang photography enthusiast yang juga senang menulis dan membuat self-portrait. tulisan-tulisannya bisa dibaca di sini & galeri fotonya ada di sini :)

comments powered by Disqus