Memanfaatkan Live-view Untuk Fotografi Landscape

Kebanyakan kamera modern sekarang dilengkapi fitur live-view yang bisa digunakan untuk melihat gambar yang akan difoto di bagian LCD kamera dan bukannya melalui viewfinder. LCD jaman sekarang ukurannya besar dan resolusinya tinggi sehingga bisa digunakan untuk mendapatkan foto yang tajam, exposure yang benar, dan depth of field yang tepat untuk fotografi landscape.

Dalam artikel ini kita akan lihat cara cepat untuk melakukan fotografi landscape menggunakan live-view.

contoh informasi yang bisa kamu dapat ketika live-view dalam keadaan menyala.

contoh informasi yang bisa kamu dapat ketika live-view dalam keadaan menyala.

Kelebihannya, anggaplah kamu menggunakan tripod. Kalau tidak ada tripod, maka sebaiknya gunakan viewfinder saja.

  • LCD yang besar memungkinkan untuk memeriksa depth of field
  • Kamu bisa memeriksa exposure dan bahkan histogram untuk foto yang akan diambil
  • Kamu bisa memeriksa framing dalam mode 100%, kebanyakan viewfinder tidak mencakup 100% frame
  • Kamu bisa memastikan horizonnya lurus dengan menggunakan grid
  • Kamu bisa memeriksa fokus yang sempurna menggunakan pembesaran (zoom) pada saat live view
  • Ketika live-view aktif, cermin terangkat sehingga bisa jadi cara yang efektif untuk menggunakan mirror-lockup untuk fokus yang lebih tajam

Kekurangannya, live-view menimbulkan panas pada sensor dan ini menyebabkan noise. Pada siang hari, noise ini tidak akan mengganggu karena sinyalnya terlalu kuat. Pada malam hari noise akibat panas bisa jadi masalah sehingga penggunaan live-view harus dikurangi sebisa mungkin.

Langkah 1 : Atur Frame

Gunakan live-view untuk mengatur fotomu. Kamu melihat 100% dari keseluruhan frame, jadi kamu bisa memeriksa pinggirannya dan memastikan komposisinya pas.

Langkah 2 : Fokus

Letakkan kamera/lensa di mode fokus manual. Dengan live-view menyala, pilih aperture yang menurutmu paling tepat untuk kondisi landscape yang akan difoto, misalnya f/8. Kalau foreground sudah tampak jelas, maka aperture sudah pas. Kalau belum, berpindahlah ke aperture yang lebih kecil (angka f/ besar). Misalnya berpindah dari f/8 ke f/11. Tujuannya adalah menemukan jarak hyperfocal tanpa harus menggunakan tabel perhitungan.
Tip : Gunakan pembesaran (zoom) saat live-view jika dibutuhkan untuk memastikan fokusmu sudah sempurna.

Langkah 3 : Exposure

Pastikan kamu menggunakan file RAW. Aktifkan histogram live-view untuk memeriksa exposure gambar yang akan kamu foto. Pilih exposure terpanjang yang paling memungkinkan tanpa membuat bagian histogram menyentuh bagian kanan grafik. Tujuannya adalah mengekspos sebanyak mungkin ke bagian kanan tapi tidak berlebih. Jangan kuatir kalau foto tampak overexposed, kamu bisa bisa memperbaikinya dengan mudah kalau menggunakan file RAW. Prosesnya disebut ‘ETTR’ atau Expose-To-The-Right dan tujuannya mengurangi munculnya noise.
Catatan : kadang-kadang kalau ada elemen yang sangat terang di dalam foto seperti matahari, beberapa bagian harus dibuat overexposed agar seluruh bagian landscape bisa muncul detilnya. Ini tentu sesuai selera dan pilihanmu.

Ketika dynamic range pada suatu lokasi terlalu tinggi, maka kamu perlu mengguanak graduated filter atau memotret lebih dari satu foto dengan exposure yang berbeda untuk kemudian digabungkan melalui editor foto (yang kita kenal dengan teknik HDR).

Dengan metode sederhana diatas, kamu bisa mendapatkan :

  • Difraksi minimal
  • Depth of field yang sempurna
  • Fokus yang sempurna
  • Ketajaman maksimal
  • Exposure yang tepat

Dan untuk semua ini kamu hanya perlu menggunakan fitur live-view dan memanfaatkan LCD untuk mendapatkan foto landscape yang kamu inginkan.

Penulis : allophelia

sudah menulis 225 post di blog ini.

seorang photography enthusiast yang juga senang menulis dan membuat self-portrait. tulisan-tulisannya bisa dibaca di sini & galeri fotonya ada di sini :)

comments powered by Disqus