Panduan Memilih dSLR Pertama

Sebuah kamera dSLR adalah sesuatu yang diam-diam diinginkan semua penghobi fotografi, tapi mereka tidak tahu dengan pasti apa sebenarnya dSLR itu. Jika digambarkan dalam dua kata, dSLR adalah si “serba bisa”. Ia bisa digunakan untuk hampir apa saja yang kamu inginkan – mulai dari memotret serangga kecil sampai pernikahan, landscape, bahkan astronomi.

 

Keuntungannya:

  • Lensanya bisa diganti – tergantung dari jenis fotografi yang diinginkan, lensa dSLR bisa diganti untuk mengoptimalkan foto yang diharapkan, lebih fleksibel daripada satu-lensa-untuk-semua dari kamera saku.
  • Viewfinder optiknya melalui lensa lewat sebuah cermin atau prisma – kamu bisa melihat melalui lensa untuk framing yang sempurna dan bisa melihat lebih banyak detil dibandingkan jika menggunakan layar LCD.
  • Autofokus yang lebih cepat – memungkinkan kamera untuk fokus lebih cepat dengan ketepatan yang lebih baik.
  • Tidak ada jeda shutter – yang artinya tidak ada jeda antara waktu ditekannya tombol shutter ke saat foto diambil sehingga tidak akan kehilangan momen.
  • Tidak ada jeda antarfoto – sehingga kamu  bisa memotret setidaknya 3 frame per detik (tergantung pada tipe kameranya bahkan bisa sampai 12 frame per detik), cocok untuk action shots.
  • Lebih sedikit noise di cahaya rendah – kamu bisa memotret dalam cahaya redup dan hasilnya tetap bagus.

Kekurangannya:

  • Ukuran – kamu tidak bisa memasukkan dSLR ke saku baju dan kalau kamu punya lebih dari satu lensa, siap-siap untuk membawa ransel kamera.
  • Agak sulit untuk pemula – kamera saku dirancang untuk kemudahan dan hasil instan, sementara dSLR harus dipelajari untuk bisa digunakan secara efektif.
  • Tidak ada live view – tidak semua kamera dSLR dilengkapi fitur live view, dan jikapun ada maka tidak optimal untuk pengambilan gambar berhubungan dengan autofokus, viewfinder, dan sebagainya.

Tapi kekurangan-kekurangan ini semakin berkurang dengan banyaknya model kamera baru. Ada pula kelas baru untuk kamera dengan lensa yang bisa diganti tapi cara kerjanya mirip dengan kamera saku (Sony NEX 5 dan 7, Panasonic Lumix, Nikon V1). Tapi mari kita diskusikan pemilihan dSLR yang “sebenarnya”.

Lupakan Merk

Ini adalah sesuatu yang dijamin menimbulkan kontroversi. Ketika sampai pada pemilihan merk kamera, orang akan menjadi fanatik. Untuk beberapa alasan, orang tidak terlalu meributkan pilihan merk saat membeli komputer atau mobil, tapi ketika sampai pada Canon vs. Nikon, orang akan membela merk yang mereka sukai habis-habisan. Ada lima produsen utama dSLR; Canon, Nikon, Olympus, Pentax, dan Sony. Mari kita luruskan: dalam hal kualitas, semuanya hebat. Setiap merk punya daftar inovasi, penghargaan, dan pencapaian. Ketika kamu membandingkan dua kamera dalam tingkat yang sama (entry-level, advanced, amatir, dsb.) perbedaan kualitas atau fiturnya sangat kecil.

Jangan beli kamera, tapi berinvestasilah pada sistem

Dengan kamera saku, kebanyakan orang hanya membeli kamera. Itu saja. Kamu bisa membeli Panasonic sekarang lalu Fuji dua tahun kemudian. Ingatlah bahwa dSLR itu “serba bisa”. Sangat mungkin bahwa pada awalnya kamu bahkan tdak tahu jenis fotografi apa yang ingin kamu ambil. Seiring bertambahnya pengalaman, kemungkinannya kamu akan ingin membeli lebih banyak aksesoris untuk kamera dSLR, sehingga sistemnya berkembang bersama keahlianmu, bukan sebaliknya.

Keadaannya mungkin begini: Awalnya kamu hanya membeli satu body kamera yang termasuk kit lens. Lalu kamu akan membeli lensa telephoto; lalu sebuah flash; lalu lensa wide angle zoom; lalu filter polarizing; flash lagi; sebuah remote shutter release; tripod; sebuah lensa fixed; dan seterusnya. Jadi pada saatnya kamu membeli body kamera yang kedua, kamu masih akan menggunakan lensa dan asesoris lainnya, sehingga kamu tidak akan melompat dari satu merk ke merk lain.

Fitur apa yang harus diperhatikan

Semua kamera membanggakan banyak fitur yang dimilikinya; kadang bahkan mereka menawarkan hal yang sama dengan nama yang berbeda. Umumnya, jangan membeli kamera high-end sebagai dSLR pertamamu. Kamera canggih tidak secara otomatis menghasilkan foto yang bagus. Fiturnya yang rumit malah akan membingungkan. Lebih baik belilah body kamera yang harganya terjangkau lalu menabunglah untuk membeli lensa yang bagus.

1. Resolusi

Megapixels. Kita semua tahu semakin besar angkanya, semakin bagus, kan? Tapi tidak sesederhana itu. Resolusi tinggi memang bagus, tapi hasil akhir fotonya tergantung pada ukuran sensor. Kebanyakan sensor dSLR berukuran sekitar 24×16 mm (ukuran APS-C). Untuk sensor ini semakin tinggi resolusinya, semakin tinggi noise yang muncul. Dengan teknologi saat ini, 16mp adalah ukuran yang seimbang. Tentu saja sensor full-frame yang tersedia di kamera high end dengan ukuran sensor 36x24mm bisa mencapai resolusi 24mp – tapi sekarang kita sedang membicarakan dSLR pertama. Jadi belum perlu sensor sebesar itu. Sensor ukuran 12mp bisa menghasilkan ukuran foto A3 dengan detil tinggi.

2. Live view

Dengan kamera saku, kamu sangat bergantung pada LCD untuk membantumu melihat apa yang sedang kamu foto dengan cara WYSIWYG (what you see is what you get). Belum lama ini dSLR baru saja memunculkan model yang menggunakan live view, tapi ini tidak terlalu banyak manfaatnya karena memperlambat autofokus. Jika kamu merasa harus punya dSLR dengan live view, pastikan LCD-nya bisa dimiringkan sehingga kamu bisa leluasa melihat apa yang sedang difoto. Coba pertimbangkan untuk melihat model a55 dan a65 dari Sony, jenis kamera baru yang secara esensial menghilangkan masalah yang berhubungan dengan live view.

3. Movie mode

Ini adalah fitur lain yang diadopsi dari kamera saku. Beberapa dSLR model baru punya movie mode, biasanya HD (high definition). Pengambilan film menggunakan dSLR memiliki kekurangan dan kelebihan, tentunya. Di satu sisi, ia memungkinkan pengambilan film yang indah; di sisi lain, autofokus dan exposure-nya terbatas sehingga hanya bagus bila digunakan untuk kondisi yang terkontrol dengan sedikit gerakan.

4. Kestabilan optik

Memotret dengan cahaya redup atau dengan lensa telephoto bisa jadi agak sulit tanpa tripod. Hampir semua kamera dSLR punya semacam stabilisator. Meskipun begitu, ada triknya: Canon dan Nikon menyediakan stabilisator di lensanya (“IS” pada lensa Canon, dan “VR” pada lensa Nikon), sementara Sony, Pentax, dan Olympus meletakkannya di body kamera.

5. In-body motor

Beberapa kamera Nikon tidak punya in-body motor lensa autofokus. Ini artinya, meskipun kameranya sendiri relatif murah dan kecil, kamu perlu membayar lebih untuk lensa dengan built-in motor.

Peganglah

Bahkan jika kamu berencana membeli kamera secara online, kamu harus tetap pergi ke toko dan memegang kamera yang ingin kamu beli dan cobalah mengambil beberapa foto. Semua fitur yang tersedia tidak ada gunanya lagi kalau kamu tidak suka penampilan kameranya atau tidak nyaman dipegang atau ternyata layout tombol-tombolnya tidak menyenangkan.

Beberapa kamera terbaru yang bisa kamu pertimbangkan untuk jadi senjata awal dalam petualangan dSLR adalah Canon EOS 650D, Nikon D3200, dan Sony Alpha a37.

Penulis : allophelia

sudah menulis 225 post di blog ini.

seorang photography enthusiast yang juga senang menulis dan membuat self-portrait. tulisan-tulisannya bisa dibaca di sini & galeri fotonya ada di sini :)

comments powered by Disqus