Menjadi Fotografer Yang Mengenal Etika

broken-lens

Semakin lama, fotografi semakin terbuka dan terjangkau oleh semua orang. Dimana-mana kita bisa dengan mudah melihat orang membawa kamera dan memotret. Kamera besar sudah bukan hal jarang yang eksklusif untuk profesional saja. Tapi, bersama dengan alat yang bernama kamera ini, kita juga dituntut untuk tahu tanggung jawab dan etika apa yang datang bersamanya.

Kamu mungkin sudah dengar tentang insiden-insiden memalukan yang melibatkan fotografer seperti saat perayaan Waisak di Candi Borobudur yang lalu, juga ketika penaikan bendera merah putih di Istana Negara tanggal 17 Agustus kemarin. Orang-orang berkamera, yang mungkin merasa menyandang gelar ‘fotografer’, merangsek ke area dimana acara yang khidmat sedang berlangsung. Saya pikir semua juga pasti setuju bahwa menenteng dSLR bukan berarti dilegalkan untuk memotret apapun, dimana saja, dan kapan saja. Tetap ada aturan dan tata krama-nya. Tetap ada batasannya. Saya dan beberapa teman sampai berkelakar bahwa sekarang kalau ada kecelakaan atau kemalangan terjadi, yang pertama orang lakukan adalah memotretnya dan bukan menolong. Kelakar yang tidak lucu, menurut saya.

Akan sangat menyenangkan kalau semua fotografer khususnya, dan orang-orang yang mencintai fotografi pada umumnya selalu berusaha untuk sopan dan mengerti etika. Di tempat-tempat khusus seperti restoran, di tempat umum seperti jalanan dan taman, sampai ke event yang sangat personal dan sakral seperti upacara keagamaan dan pernikahan.

Fotografer Bukan Predator

Pemangsa hanya punya satu tujuan: mendapatkan buruan. Fotografer pasti akrab dengan kata hunting – berburu. Tapi jangan sampai kita kemudian jadi pemangsa yang sesungguhnya yang melegalkan segala cara hanya untuk mendapat foto yang kita mau. Ketika orang melakukan hal-hal yang sangat pribadi seperti beribadah, beristirahat di tempat umum, mengobrol dengan rekan di kedai kopi, dan sebagainya, tentu ada momen dimana emosi muncul dan kita tergerak untuk mengabadikannya. Tapi, tidakkah sebaiknya kita menempatkan diri dulu dengan benar? Pertama, dengan menghormati apa yang mereka lakukan dengan memberi ruang dan waktu untuk kegiatan personal tadi. Kedua, dengan berpikir “Nyamankah mereka dipotret? Apakah saya mau dipotret jika ada di posisi mereka? Keberatankah mereka?” Ketiga, jangan sampai kehadiran kita menjadi gangguan.

Kamera Hebat Untuk Fotografer Yang Berkualitas

Berkualitas disini bukan hanya berarti hasil fotonya bagus-bagus, tapi juga fotografer yang tahu sopan santun. Saya sering datang ke acara dimana mereka yang menenteng kamera dan lensa besar kemudian merasa boleh berdiri dimana saja untuk memotret sehingga mengganggu dan menghalangi pengunjung lain yang juga sama-sama punya hak untuk menikmati acara. Bahkan fotografer resmi yang punya tanda pengenal pun tidak seenaknya berdiri di sembarang tempat. Karena mereka tahu apa yang harus dipotret dan seberapa banyak porsi mereka di acara itu. Saya rasa tidak menyenangkan melihat orang yang punya kamera bagus tapi attitude-nya buruk.

Gunakan Hati, Bukan Cuma Buku Manual

Belajar memahami kamera dan bagaimana membuat foto yang bagus bisa dipelajari dengan cepat dan mudah. Tapi belajar menjadi santun adalah proses yang harus dilatih setiap hari. Fotografer juga manusia, kan? Kita bisa selalu berempati dan bersimpati. Jadi saat berikutnya kamu keluar rumah untuk hunting bersama kameramu, pastikan kamu juga “menyalakan” hati di perjalanan.

Selamat memotret dan menjadi fotografer yang menyenangkan :)

Penulis : allophelia

sudah menulis 225 post di blog ini.

seorang photography enthusiast yang juga senang menulis dan membuat self-portrait. tulisan-tulisannya bisa dibaca di sini & galeri fotonya ada di sini :)

comments powered by Disqus