Belajar External Flash (Speedlite, Speedlight) – Bagian 1

Setelah beberapa artikel mengenai flash seperti  bagaimana memanfaatkan built-in flash, dan mengapa kamu perlu flash tambahan, kita bisa menyimpulkan bahwa flash terbaik adalah yang fleksibel, dan itu berarti external flash yang bisa dilepas dari kamera sesuai kebutuhan. Namun, bagi mereka yang baru mulai menggunakan external flash (yang juga disebut Speedlite pada Canon, dan Speedlight pada Nikon), pengaturannya bisa sedikit membingungkan karena hasil foto kadang tampak underexposed, overexposed, atau sempurna tanpa tahu bagian mana yang harus disesuaikan agar hasilnya selalu baik.

pasangan kamera Canon dan Speedlite

pasangan kamera Canon dan Speedlite

Ada 6 panduan dasar yang harus kamu perhatikan tentang penggunaan flash tambahan ini:

  1. Pastikan kamu memilih flash yang benar untuk kameramu. Tiap flash punya tegangan listrik yang berbeda, jika tidak cocok maka kemungkinan sirkuit pada kameramu bisa terbakar karena korslet.
  2. Pertimbangkan jenis fotografi apa yang akan kamu kerjakan. Portrait dan macro membutuhkan jenis flash yang berbeda. Macro biasanya menggunakan flash jenis ring.
  3. Pilihlah flash. Biasanya tiap pabrikan kamera juga memproduksi flash untuk pasangan kamera yang mereka buat. Kalau kamu menggunakan merk yang sama, kontrol dan fleksibilitasnya terjamin tapi bisa jadi harganya tidak murah. Beberapa orang kemudian mencari flash alternatif dari pihak ketiga, tapi pastikan cocok
  4. Cari tahu pilihan apa yang bisa kamu dapatkan saat menggunakan flash yang kamu pakai dengan membaca buku manualnya.
  5. Perhatikan shutter speed. Flash hanya akan bekerja dengan benar pada kecepatan tertentu. Jika shutter speed lebih cepat dari flash sync speed, maka foto hanya akan terekspos setengahnya.
  6. Gunakan flash, meskipun hari sedang cerah. Ini akan membuat objek fotomu tersinari dengan lebih baik dan merata. Jika kamu memotret di luar rumah saat sedang panas dan tanpa flash, akan tampil bagian-bagian berbayang yang sangat gelap dan mungkin merusak foto.

Berhubungan dengan poin 5 diatas, ini yang biasanya menjadi kebingungan bagi mereka yang baru mulai menggunakan flash tambahan. Saat kamu memotret, shutter akan membuka dan menutup untuk membiarkan cahaya masuk dan mengenai sensor. Saat ini terjadi, shutter akan terbuka sepenuhnya untuk jangka waktu yang sangat pendek. Jika shutter speed terlalu cepat, tembakan cahaya dari flash tidak akan menerangi seluruh bagian sensor sehingga sebagian foto tidak akan tertangkap oleh kamera. Shutter speed paling cepat yang bisa digunakan, disebut dengan flash sync speed, ada diantara 1/125 – 1/500 detik. Satu keuntungan flash sync speed yang lebih cepat adalah kamu bisa menggunakan fill flash di luar ruangan dengan aperture yang lebih besar untuk menghentikan gerakan dan mendapatkan depth of field yang lebih dangkal sehingga bagus untuk portrait. Pada SLR, flash sync speed ditentukan oleh timing dari dua tirai shutter – tirai depan dan belakang, kadang disebut tirai pertama dan kedua. Shutter akan membuka satu tirai untuk memulai exposure dan menutup tirai yang kedua untuk mengakhirinya.

Hal ini kemudian menjelaskan kenapa ada foto yang terlalu gelap atau terlalu terang saat pemotretan menggunakan external flash. Kamera yang bagus punya flash sync speed maksimal yang lebih cepat sehingga memungkinkan foto terkespos dengan lebih baik. Flash standar yang bisa dipasang di hotshoe menembakkan cahaya dengan sangat cepat. Durasi flash bisa bervariasi dari sekitar 1/1000 hingga 1/50.000 detik atau bahkan lebih cepat. Semakin sedikit cahaya yang dibutuhkan, semakin pendek durasinya. Sync speed maksimal bervariasi dari paling lambat 1/60 detik – pada (d)SLR model entry level hingga 1/250 sampai 1/500 detik pada model yang lebih canggih.

unit flash tambahan pada Nikon yang disebut Speedlight

unit flash tambahan pada Nikon yang disebut Speedlight

Kenapa flash sync speed menjadi penting?

Sekarang kamu tahu kenapa kebanyakan fotografer membutuhkan flash sync speed maksimal yang tinggi, yaitu agar mereka bisa menggunakan flash di luar ruangan dengan bukaan aperture besar tanpa membuat foto mereka jadi overexposed.

Kadang juga foto “meledak” dalam cahaya karena penggunaan preset mode yang salah. Mode Aperture Priority (A atau Av) adalah yang biasa digunakan untuk portrait, close up, atau telephoto. Saat mode ini digunakan lalu flash dinyalakan, maka shutter speed akan dipaksa turun tapi bukaan aperture tidak berubah sehingga hasilnya akan terlalu terang. Solusi untuk hal ini mudah saja, ganti angka f/stop ke angka yang cocok dengan flash sync speed – tentu dengan kompensasi melebarnya depth-of-field.

Sekarang sudah banyak model kamera yang bisa menggunakan flash bersamaan dengan shutter speed tertinggi yang disediakan. Tapi, sebenarnya ada pilihan lain. Banyak fotografer yang punya fitur ini tapi tidak menyadarinya. Banyak model kamera yang bisa menembakkan flash pada kecepatan shutter berapapun, sehingga secara efektif menghilangkan batasan sync speed maksimal. Istilahnya pada Canon adalah “High Speed Sync” dan Nikon menyebutnya “Auto FP High-Speed Sync.” Tapi kemudian pertanyaan baru akan muncul:

Bisakah kombinasi kamera & flash yang kamu miliki memotret pada high speed sync?
Bagaimana cara mengaktifkan fitur ini pada kamera?

Kita akan membahas lebih lanjut tentang dua pertanyaan ini pada artikel berikutnya. Ikuti terus :)

Penulis : allophelia

sudah menulis 225 post di blog ini.

seorang photography enthusiast yang juga senang menulis dan membuat self-portrait. tulisan-tulisannya bisa dibaca di sini & galeri fotonya ada di sini :)

comments powered by Disqus