8 Hal Tentang Menggunakan Prime Lens

Xeon-FF-Primes

Lensa zoom sudah tidak diragukan lagi dalam hal kenyamanan dan kepraktisan karena mampu memberikan focal length yang bermacam hanya lewat gerakan jari. Tapi, lensa ini menuntut pengertian dari penggunanya dalam hal kualitas gambar. Dengan banyaknya elemen lensa dalam barrel yang bergerak maju-mundur untuk memungkinkan zooming, kemurnian optik menjadi tidak maksimal.

Beberapa masalah yang biasanya muncul saat menggunakan lensa zoom adalah ketajaman, distorsi, vignette, dan chromatic abberation atau tumpukan warna di pinggiran objek pada kondisi kontras yang tinggi. Lensa zoom juga sering bermasalah dengan flare dan bayangan cahaya.

Bila kamu berpindah ke prime lens, yang notabene kualitasnya lebih tinggi, maka distorsi dan vignette akan jauh berkurang. Ketajaman akan tampil sempurna, sehingga kamu bisa memanfaatkan sensor resolusi tinggi sepenuhnya. Tambahan lain dari menggunakan prime lens adalah kecepatannya. Ini artinya aperture maksimal dari prime lens lebih lebar, sehingga memungkinkan shutter speed yang lebih cepat. Misalnya, lensa zoom biasa ukuran 18-55mm punya aperture maksimal sekitar f/4 pada ujung wide angle dan menciut ke f/5.6 pada sekitar 50mm. Jika kamu menggunakan prime lens 50mm f/1.4 maka aperture terlebarnya empat stop lebih cepat. Kamu bisa baca rekomendasi prime lens Fotonela untuk Nikon dan Canon pada artikel yang lalu.

Dalam cahaya redup kamu akan dibatasi oleh shutter speed, katakanlah, 1/15 detik bila menggunakan lensa zoom (kecuali kamu menaikkan ISO). Tapi, lensa f/1.4 bisa memberikan shutter speed yang jauh lebih cepat hingga 1/250 detik. Lensa f/1.8 punya kecepatan 3.3 stop lebih tinggi dari lensa f/5.6, dan bahkan model f/2.8 pun dua stop lebih cepat.

Prime lens yang juga disebut lensa cepat bukan hanya bagus untuk menghindari goyangan kamera dan menghentikan gerakan pada kondisi cahaya rendah. Keuntungan lainnya adalah bahwa kamu bisa mendapatkan depth of field yang jauh lebih sempit, sehingga objek utama atau point of interest bisa tampil menonjol dibandingkan latar belakangnya. Ini adalah trik favorit pada fotografi portrait, terutama jika latar belakangnya ramai.

Mungkin akan sedikit sulit untuk menggunakan aperture lebar saat kondisi sedang cerah dan matahari bersinar terang. Tapi kamu bisa mengatasi masalah ini dengan memasakng filter Neutral Density (ND) untuk memperlambat shutter speed sehingga foto tidak akan “meledak” karena overexposure.

Faktor penting lainnya yang harus dipertimbangkan saat membeli prime lens adalah berapa focal length yang harus dipilih. Dulu, ketika orang-orang masih menggunakan film ukuran 35mm, prime lens 50mm dianggap sebagai lensa paling umum. Ini karena perspektif yang diberikannya benar-benar sama dengan apa yang dilihat oleh mata manusia, tanpa pembesaran telephoto atau penciutan wide-angle sehingga sangat nyaman digunakan.

Dengan semua pertimbangan diatas, untuk membantumu memahami cara menggunakan lensa dengan satu ukuran ini, ada 8 hal yang kamu harus tahu:

1. Awal Yang Baik Untuk Menguasai Manual

Banyak prime lens buatan jaman dulu yang autofokusnya tidak akan berfungsi pada beberapa body kamera masa kini – Nikon D3100 dan D5100 misalnya – yang akhirnya memberi batasan hanya untuk penggunaan manual.

2. Perubahan Frekuensi

Sistem autofokus ultrasonik jenis ring milik Nikon biasanya berfungsi sangat cepat, tapi pada lensa 50mm f/1.4G dan f/1.8G kamu akan merasakan perbedaan. Gerakannya lebih lambat, tapi masih cukup cepat untuk kebanyakan jenis pemotretan.

3. Lebih Besar, Lebih Baik

Lensa yang paling cepat punya aperture f/1.4 atau f/1.8 dan memungkinkan shutter speed yang sangat tinggi juga depth of field yang sempit. Ukuran ini lebih bermanfaat dibandingkan lensa f/2.8

4. Bermainlah Dengan Cahaya

Belilah filter ND (Neutral Density) jika kamu ingin memotret menggunakan aperture besar karena akan mengurangi depth of field saat cuaca sedang cerah dan terang.

5. Maju & Mundur

Untuk bisa mendapatkan fokus, kamu harus membiasakan diri menggerakkan badan dan bukan lensa seperti saat menggunakan zoom.

6. Mendekat

Fasilitas khusus makro tentu menambah kepraktisan, tapi dengan lensa 50mm kamu harus sangat dekat dengan objek untuk mendapatkan efek makro. Jika kamu menggunakan prime lens 35mm, maka hal ini tidak bisa dilakukan.

7. Buka Lebar

Saat memotret menggunakan aperture maksimal f/1.4, ketajaman foto mungkin akan sedikit melembut.

8. Pasangan Yang Cocok

Sebuah lensa 50mm yang dipasangkan dengan body APS-C adalah kombinasi yang hebat untuk portrait. Aperture maksimal pada f/1.4 atau f/1.8 akan memberimu lebih banyak blur yang efektif pada background dibandingkan dengan lensa zoom 18-55mm.

Semoga informasi diatas bisa memperkuat keyakinan kamu untuk mencoba dan berinvestasi pada satu prime lens pilihan :)

Penulis : allophelia

sudah menulis 225 post di blog ini.

seorang photography enthusiast yang juga senang menulis dan membuat self-portrait. tulisan-tulisannya bisa dibaca di sini & galeri fotonya ada di sini :)

comments powered by Disqus