Mengenal Lens Adapter

Mungkin kamu ingin mencoba memasangkan lensa dari merk lain ke body kameramu atau ingin memakai lensa-lensa antik di dSLR modern yang kamu pakai? Maka lens adapter adalah jawabannya.

Lens adapter memungkinkanmu untuk menggunakan banyak macam lensa alternatif – termasuk lensa-lensa klasik dan unik yang mungkin sudah tidak diproduksi lagi. Seperti juga hidup, selalu menyenangkan untuk punya banyak pilihan dalam fotografi. Terutama pilihan lensa.

Bagaimana Cara Kerja Adapter?

Adapter biasanya hanya berupa ring bermesin dengan teknologi rendah yang bisa mencocokkan lensa dengan body kamera. Ujung yang satu dirancang untuk menerima merk dan/atau jenis lensa tertentu, sementara ujung yang lainnya dirancang untuk cocok dengan body kamera. Biasanya tidak ada komunikasi yang memungkinkan lensa untuk mengirim data ke kamera (dan juga sebaliknya), sehingga fitur lensa yang bergerak secara elektronis – seperti auto fokus dan auto aperture – tidak akan bekerja saat lensa dipasang ke adapter. Kamu harus menggunakan fokus manual dan secara fisik menggerakkan aperture sebelum mulai memotret. Lensa juga tidak akan bisa mengirimkan data EXIF ke kamera.

Beberapa adapter ada yang memiliki chip fokus sehingga kamera bisa memberikan tanda saat objek telah terfokus, biasanya menggunakan suara “bip” dan/atau icon yang muncul di viewfinder.

Sayangnya, tidak semua lensa bisa dicocokkan dengan semua sistem kamera. Kebanyakan adapter dibuat untuk digunakan bersama lensa lama yang memiliki cincin aperture manual, yang harus disesuaikan oleh pemakainya. Banyak lensa modern, seperti Nikon 14-24mm, memiliki kontrol aperture elektronik yang tidak akan berfungsi di kamera lain. Produsen adapter memecahkan masalah ini dengan memasukkan kenop fisik untuk aperture lensa yang dipasang di adapter. Kamu masih harus secara manual menyesuaikan aperture melalui adapter, bukan lensanya.

Kekurangan Dan Kelebihan

Karena lensa yang diadaptasi bisa menghilangkan banyak fitur auto dari kameramu, maka hal ini biasanya membuat pekerjaan jadi lebih lambat dan karenanya mungkin tidak sesuai untuk beberapa jenis pemotretan yang membutuhkan kecepatan, seperti olahraga atau wildlife. Tapi landscape, arsitektur, dan objek lain yang tidak bergantung pada autofokus sangat cocok untuk lensa adaptasi.

Masalah diatas tadi mungkin membuat beberapa orang bertanya: Buat apa menggunakan lensa alternatif dengan adapter?
Beberapa alasan utamanya:

Biaya: Lensa alternatif bisa jauh lebih murah daripada lensa dari merk yang sama dengan kamera. Banyak yang sudah tidak diproduksi lagi tapi masih beredar di pasar barang second dengan harga yang terjangkau.

Kualitas: Jangan langsung percaya kalau ada yang bilang bahwa lensa dari pabrik kamera yang kamu gunakan adalah yang terbaik. Faktanya, banyak lensa alternatif yang lebih bagus daripada lensa yang tidak teradaptasi. Jangan ragu memakai lensa Nikon meskipun kamu memakai kamera Canon, dan begitu juga sebaliknya.

Menyesuaikan Sistem: Jika kamu sudah berganti kamera, tapi tidak mau kehilangan lensa dari kamera yang lama, kamu bisa menggunakan adapter dan tetap memanfaatkan lensa-lensa lama ini. Hal ini juga berlaku jika kamu berganti merk kamera tapi masih menyimpan lensa dari merk yang lama.

Pilihan Adapter

Saat ini, ada banyak sekali lens adapter di pasaran – ada yang bagus, ada yang kurang bagus. Ada sejumlah produsen yang sudah punya reputasi di bidang pembuatan adapter, termasuk Adaptimax, Bower, CameraQuest, Fotodiox, Novoflex, Vello, dan sebagainya. Kamu bisa mendapatkan adapter murah secara online seperti di BursaFN, bukalapak, kaskus, dan sebagainya. Banyak yang cukup bagus, tapi kamu juga mungkin menemukan banyak adapter yang kurang memenuhi syarat.

Lakukan “penelitian” sebelum kamu membeli adapter untuk memastikan kamu mendapat kualitas dan fitur yang dibutuhkan. Bacalah beberapa website pabrik pembuat adapter untuk meyakinkan kamu mendapatkan kegunaan yang diharapkan. Yang paling penting, pastikan adaptermu bisa fokus di sepanjang range fokus asli pada lensa, terutama fokus infinity (adapter yang bagus tidak akan mempengaruhi kemampuan fokus pada lensa).

Lalu bagaimana cara memilih adapter yang sesuai? Pada awalnya mungkin agak membingungkan karena banyaknya kode semacam M42, T/T2, F, M, dan seterusnya. Ini biasanya untuk mengindikasikan pasangan body kamera dengan lensa yang bisa diadaptasi. Coba lihat sejumlah adapter di website B&H Photo Video ini sebagai gambaran.

Sistem Kamera Yang Bisa Diadaptasi

Meskipun banyak sistem kamera bisa diadaptasi hingga ke satu titik, tapi tidak semua sistem diciptakan sama jika menyangkut lensa alternatif. Kamera Nikon adalah satu dari yang paling sulit diadaptasi. Sementara dSLR Canon adalah yang paling mudah karena ukuran mount lensa yang sangat baik, dan selama bertahun-tahun banyak yang sudah berhasil mengadaptasi dSLR Canon mereka untuk berpasangan dengan banyak sekali lensa alternatif.

Yang terbaru, kamera mirrorles atau kamera saku yang lensanya bisa diganti, bisa dicocokkan dengan lensa rangefinder lama seperti Contax, Leica, Canon ulir, dan sebagainya. Tapi, seperti kasus pada umumnya, kebanyakan adapter tidak mendukung autofokus pada body kamera jenis ini.

Adaptasi Antar Format

Pertukaran lensa tidak hanya dibatasi pada kamera dengan format yang sama. Banyak yang sudah menyilangkan format yang berbeda termasuk Four Thirds, APS-C (cropped sensor), 35mm full-frame, medium-format, dan bahkan sistem large-format.

Lebih mudah untuk mengadaptasi dari yang lebar ke yang sempit, memasangkan lensa format besar ke body format kecil, dibandingkan sebaliknya. Lensa dengan format kecil dibuat untuk melihat hanya selebar film atau sensor yang dirancang untuknya. Jadi, jika kamu menggunakan lensa format kecil di body dengan format besar, kamu bisa mendapatkan vignette yang tebal atau bahkan foto yang bentuknya lingkaran.

Di sisi lain, saat mengadaptasi lensa format besar ke kamera yang lebih kecil, kamu akan mendapatkan tampilan yang lega, tapi dengan sudut pandang yang lebih sempit. Format besar punya area foto yang lebih lebar, dan membutuhkan lensa dengan focal length yang panjang. Jadi, jika lensa wide angle pada dSLR full frame katakanlah berukuran 21mm, persamaannya pada kamera format medium membutuhkan lensa 50mm, dan pada format 4×5 adalah 90mm.

Adaptasi Permanen

Kalau kamu tidak suka kehilangan fitur autofokus dan auto aperture, mungkin kamu perlu mempertimbangkan perubahan permanen pada lensa alternatifmu melalui jasa profesional. Lensa yang dimodifikasi akan mempertahankan fungsi atofokus, auto aperture, dan komunikasi EXIF. Pilihan yang tersedia termasuk modifikasi permanen lensa Contax N ke kamera Canon EOS, lensa Canon EF ke kamera Sony NEx, dan lensa Contax N ke kamera Sigma SD14.

Beberapa Lensa Yang Paling Banyak Diadaptasi

Kalau kamu mencari lensa yang bagus untuk diadaptasi, berikut lima yang paling populer untuk membantumu mengenal dunia adapter ini. Semuanya dikenal bekerja dengan baik jika dipasangkan ke body kamera lain.

  • Zeiss Distagon 21mm f/2.8: lensa Zeiss untuk Contax/Yashica punya kualitas yang luar biasa. Sekarang juga bisa dipasang di Canon dan Nikon.
  • Olympus Zuiko 21mm f/2: lensa kecil ini tidak mahal tapi meiliki performa yang tinggi sebagai pengganti Distagon 21mm. Lensa ini juga cepat pada bukaan f/2.
  • Nikon 14-24mm AFS f/2.8G ED: memiliki ketajaman dari sudut ke sudut, mengalahkan lensa lain di kelasnya.
  • Contax N Vario-sonnar T* 17-35mm f/2.8: banyak yang mengadaptasi lensa Zeiss legendaris ini secara permanen untuk dipasangkan ke Canon EOS.
  • Leica Vario-Elmar-R 21-35mm f/3.5-4: dibuat untuk SLR Leica R yang sudah tidak diproduksi lagi. Banyak yang mengatakan ini adalah salah satu lensa zoom wide angle paling tajam yang ada.

Penulis : allophelia

sudah menulis 225 post di blog ini.

seorang photography enthusiast yang juga senang menulis dan membuat self-portrait. tulisan-tulisannya bisa dibaca di sini & galeri fotonya ada di sini :)

comments powered by Disqus